
Bagi Anda yang pernah merasakan kerasnya dunia pendidikan, Anda pasti akrab dengan istilah "minggu tenang". "Minggu tenang" adalah sebuah masa berdurasi kurang lebih satu minggu. Maksud saya dengan durasi yang kurang lebih satu minggu memang bukan sebuah kekeliruan dalam penulisan, memang relevan, kenyataannya memang terasa seperti ini, karena saya adalah orang yang edukatif, saya pernah menjalani hidup sebagai seorang pelajar dan mahasiswa, malah saya terdaftar sebagai mahasiswa di institut teknologi terbaik di kota Bandung, jelas edukatif dan Anda akhirnya mengerti mengapa tulisan saya berkualitas dan edukatif. Baiklah, itu sedikit tentang saya yang edukatif dan kuliah di institut teknologi terbaik di kota Bandung, mari kita kembali kepada topik yang seharusnya saya bahas ketimbang saya menjelaskan bahwa saya kuliah di institut teknologi terbaik di kota Bandung, sebetulnya tidak begitu membanggakan sih bagi saya namun itulah takdir yang harus saya hadapi, yakni sebagai mahasiswa di sebuah institut teknologi terbaik di Bandung. Ya begini, kenapa kurang lebih satu minggu? Satu minggu itu durasinya 168 jam tapi durasi satu minggu dalam "minggu tenang" berbeda bagi tiap orang, bagi Anda yang pernah bersekolah dan atau berkuliah, "minggu tenang" seringnya terasa kurang dari 168 jam (coba Anda ingat-ingat lagi perasaan ini). Tapi bisa juga seminggu dalam "minggu tenang" terasa berbulan-bulan bagi orang-orang yang punya semangat yang agak berlebihan dalam menuntut ilmu.
Maaf, sebelum saya lanjutkan bahasannya saya ingin meralat tulisan "minggu tenang", bentuk penulisan yang benar adalah minggu "tenang".
Minggu "tenang" ini adalah masa libur selama satu minggu diberikan oleh guru Anda sebagai waktu bagi siswanya untuk menenangkan diri, biasanya menjelang ujian tengah semester atau ujian akhir semester supaya para siswa bisa menjalankan ujian dengan baik karena perasaan tenang yang (diharapkan) muncul dalam diri siswa dalam satu minggu tersebut. Apakah Anda memang merasa tenang dalam sebuah minggu "tenang"? Saya yakin, sebagian besar dari Anda merasa tidak tenang. Walaupun Anda berusaha untuk tenang-tenang saja dengan cara melupakan ujian, pada saat minggu "tenang" Anda akan merasa sangat kesulitan untuk tenang barang sebentar saja.
Jadi sebetulnya apa maksud dari frase minggu "tenang" ini? Setelah beberapa hari saya pikirkan, akhirnya saya menemukan makna dari frase minggu "tenang". Bila ditinjau dari perasaan yang pada umumnya dirasakan orang-orang kebanyakan, kata "tenang" sepertinya merujuk kepada sebuah bentuk kepanjangan "TErasa NANGgung". Apanya yang nanggung? Coba saja perhatikan perasaan Anda dalam menjalani libur minggu "tenang". Semua terasa nanggung, ketika kita melihat minggu "tenang" adalah sebuah masa libur, seharusnya masa libur diisi dengan kegiatan yang menyenangkan seperti rekreasi atau tidur sepuas-puasnya. Tapi apakah Anda betul-betul mampu melakukan kegiatan itu pada saat minggu "tenang", mungkin saja Anda melakukan rekreasi, misalkan Anda berkumpul dengan teman-teman sekolah Anda di tongkrongan dekat sekolah Anda, sudah pasti banyak hal yang mengingatkan Anda tentang sekolah dan akibatnya Anda jadi tidak tenang. Atau misalkan Anda melakukan rekreasi pikiran dengan mengkonsumsi obat-obatan recreational, Anda akan terhanyut dalam pikiran yang ada di otak Anda sebelumnya yaitu ujian maka Anda akan diteror oleh halusinasi Anda sendiri karena hal-hal sekitar ujianlah yang niscaya akan muncul dalam pikiran Anda. Atau katakanlah Anda mengkonsumsi obat-obatan recreational yang bisa membuat Anda betul-betul bisa melupakan kegundahan Anda tapi ketika Anda terbangun setelah melewati satu hari lebih hanya dengan kegiatan tidur, sudah barang tentu Anda akan panik karena ujian tiba-tiba saja terasa semakin dekat dan kondisi ini pasti sangat tidak menenangkan. Apabila Anda mencoba mendaki gunung yang belum pernah Anda datangi dan kemudian
membuang kompas Anda di tengah perjalanan supaya Anda tersesat dan memiliki alasan kuat untuk tidak ikut ujian, Anda pasti akan membuat keluarga dan teman-teman Anda tidak tenang dan pada akhirnya Anda juga dapat dipastikan merasa tidak tenang setelah melewati 3 hari sendirian tanpa makanan di sebuah pegunungan yang sepi. Belajar mempersiapkan diri untuk ujian Anda jadikan pilihan terakhir untuk menenangkan diri, bisa saja Anda tetap merasa tidak tenang, 2 sisi dari hati Anda akan beradu. Yang satu berteriak "Hey, hari ini libur. Masa belajar? Jangan gila dong!" dan yang lainnya berteriak "Ya iya lah belajar masa ya iya dong belajar?!". Apakah pikiran Anda akan tenang apabila mendengarkan perkataan seperti itu, saya rasa tidak. Anda tidak akan bisa tenang pada minggu "tenang", Anda pasti merasa nanggung. Mau hura-hura nanggung, mau santai-santai nanggung, mau belajar juga nanggung.