Rabu, 18 Mei 2011

Jumat, 21 Januari 2011

KEGALAUAN


Apakah Anda sedang merasakan kegalauan? Atau Anda baru saja pulih dari rasa galau? Apa itu galau? Apabila Anda tidak tahu makna galau karena Anda belum pernah merasa galau atau Anda tidak betul-betul memahami pengertian kata galau walaupun sudah pernah berada pada kondisi itu, kali ini saya akan membahas istilah galau secara serius dan saya yakin betul bahwa dalam edisi ini sebagian dari Anda akan mengira kalau edisi ini adalah edisi curcol (curhat (curahan hati) colongan). Apabila nanti ketika Anda membaca tulisan ini kemudian Anda merasa saya sedang mencurahkan isi hati saya artinya Anda sudah keliru. Saya tekankan sekali lagi, saya mencoba membantu Anda untuk kenal lebih dalam dengan istilah galau dengan referensi memadai dan analisis saya yang tajam, bukan curahan hati.

Pengertian kata galau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Online :
ga·lau a, ber·ga·lau a sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran);
ke·ga·lau·an n sifat (keadaan hal) galau

Dalam menulis edisi kali ini saya baru mengetahui bahwa galau memiliki beberapa pengertian, saya pikir galau hanyalah sebuah kekacauan di dalam hati dan pikiran. Mengacu pada pengertian pertama, berarti galau juga merupakan kegiatan positif seperti kegiatan anak band yang dipenuhi kesibukan dan dilakukan secara beramai-ramai.



Lanjut pada pengertian kata galau yang kedua yaitu “ramai sekali”. Dapat disimpulkan bahwa pasar tradisional, terminal pada saat menjelang hari raya, atau konser band sekelas Slank merupakan tempat yang tepat untuk mengoptimalkan rasa galau. Dapat dibayangkan betapa tidak karuannya perasaan hati kita apabila pada saat yang bersamaan kita terdesak oleh tuntutan profesi, sang pujaan hati lebih memuja orang lain, lilitan hutang lebih kencang daripada lilitan ular anaconda, kemudian kita menyambangi konser Slank duet bersama Iwan Fals, niscaya kekacauan dalam pikiran kita dalam seketika akan membuat kita menjadi orang yang pikiran dan hatinya paling teraniaya di dunia. Untuk pengertian ketiga, saya pikir penguraian di atas sudah sangat jelas, tidak perlu contoh kasus dari saya. Dari ketiga pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam hidup ini kita tidak akan pernah lepas dari kegalauan.

Selasa, 05 Januari 2010

Minggu Tenang Tidak Pernah Tenang


Bagi Anda yang pernah merasakan kerasnya dunia pendidikan, Anda pasti akrab dengan istilah "minggu tenang". "Minggu tenang" adalah sebuah masa berdurasi kurang lebih satu minggu. Maksud saya dengan durasi yang kurang lebih satu minggu memang bukan sebuah kekeliruan dalam penulisan, memang relevan, kenyataannya memang terasa seperti ini, karena saya adalah orang yang edukatif, saya pernah menjalani hidup sebagai seorang pelajar dan mahasiswa, malah saya terdaftar sebagai mahasiswa di institut teknologi terbaik di kota Bandung, jelas edukatif dan Anda akhirnya mengerti mengapa tulisan saya berkualitas dan edukatif. Baiklah, itu sedikit tentang saya yang edukatif dan kuliah di institut teknologi terbaik di kota Bandung, mari kita kembali kepada topik yang seharusnya saya bahas ketimbang saya menjelaskan bahwa saya kuliah di institut teknologi terbaik di kota Bandung, sebetulnya tidak begitu membanggakan sih bagi saya namun itulah takdir yang harus saya hadapi, yakni sebagai mahasiswa di sebuah institut teknologi terbaik di Bandung. Ya begini, kenapa kurang lebih satu minggu? Satu minggu itu durasinya 168 jam tapi durasi satu minggu dalam "minggu tenang" berbeda bagi tiap orang, bagi Anda yang pernah bersekolah dan atau berkuliah, "minggu tenang" seringnya terasa kurang dari 168 jam (coba Anda ingat-ingat lagi perasaan ini). Tapi bisa juga seminggu dalam "minggu tenang" terasa berbulan-bulan bagi orang-orang yang punya semangat yang agak berlebihan dalam menuntut ilmu.
Maaf, sebelum saya lanjutkan bahasannya saya ingin meralat tulisan "minggu tenang", bentuk penulisan yang benar adalah minggu "tenang".
Minggu "tenang" ini adalah masa libur selama satu minggu diberikan oleh guru Anda sebagai waktu bagi siswanya untuk menenangkan diri, biasanya menjelang ujian tengah semester atau ujian akhir semester supaya para siswa bisa menjalankan ujian dengan baik karena perasaan tenang yang (diharapkan) muncul dalam diri siswa dalam satu minggu tersebut. Apakah Anda memang merasa tenang dalam sebuah minggu "tenang"? Saya yakin, sebagian besar dari Anda merasa tidak tenang. Walaupun Anda berusaha untuk tenang-tenang saja dengan cara melupakan ujian, pada saat minggu "tenang" Anda akan merasa sangat kesulitan untuk tenang barang sebentar saja.
Jadi sebetulnya apa maksud dari frase minggu "tenang" ini? Setelah beberapa hari saya pikirkan, akhirnya saya menemukan makna dari frase minggu "tenang". Bila ditinjau dari perasaan yang pada umumnya dirasakan orang-orang kebanyakan, kata "tenang" sepertinya merujuk kepada sebuah bentuk kepanjangan "TErasa NANGgung". Apanya yang nanggung? Coba saja perhatikan perasaan Anda dalam menjalani libur minggu "tenang". Semua terasa nanggung, ketika kita melihat minggu "tenang" adalah sebuah masa libur, seharusnya masa libur diisi dengan kegiatan yang menyenangkan seperti rekreasi atau tidur sepuas-puasnya. Tapi apakah Anda betul-betul mampu melakukan kegiatan itu pada saat minggu "tenang", mungkin saja Anda melakukan rekreasi, misalkan Anda berkumpul dengan teman-teman sekolah Anda di tongkrongan dekat sekolah Anda, sudah pasti banyak hal yang mengingatkan Anda tentang sekolah dan akibatnya Anda jadi tidak tenang. Atau misalkan Anda melakukan rekreasi pikiran dengan mengkonsumsi obat-obatan recreational, Anda akan terhanyut dalam pikiran yang ada di otak Anda sebelumnya yaitu ujian maka Anda akan diteror oleh halusinasi Anda sendiri karena hal-hal sekitar ujianlah yang niscaya akan muncul dalam pikiran Anda. Atau katakanlah Anda mengkonsumsi obat-obatan recreational yang bisa membuat Anda betul-betul bisa melupakan kegundahan Anda tapi ketika Anda terbangun setelah melewati satu hari lebih hanya dengan kegiatan tidur, sudah barang tentu Anda akan panik karena ujian tiba-tiba saja terasa semakin dekat dan kondisi ini pasti sangat tidak menenangkan. Apabila Anda mencoba mendaki gunung yang belum pernah Anda datangi dan kemudian membuang kompas Anda di tengah perjalanan supaya Anda tersesat dan memiliki alasan kuat untuk tidak ikut ujian, Anda pasti akan membuat keluarga dan teman-teman Anda tidak tenang dan pada akhirnya Anda juga dapat dipastikan merasa tidak tenang setelah melewati 3 hari sendirian tanpa makanan di sebuah pegunungan yang sepi. Belajar mempersiapkan diri untuk ujian Anda jadikan pilihan terakhir untuk menenangkan diri, bisa saja Anda tetap merasa tidak tenang, 2 sisi dari hati Anda akan beradu. Yang satu berteriak "Hey, hari ini libur. Masa belajar? Jangan gila dong!" dan yang lainnya berteriak "Ya iya lah belajar masa ya iya dong belajar?!". Apakah pikiran Anda akan tenang apabila mendengarkan perkataan seperti itu, saya rasa tidak. Anda tidak akan bisa tenang pada minggu "tenang", Anda pasti merasa nanggung. Mau hura-hura nanggung, mau santai-santai nanggung, mau belajar juga nanggung.

Rabu, 30 Desember 2009

Situs Jejaring Sosial

Hey readers, it's been a long long time since we don't have a nice time. Saya baru kembali dari hiatus. Selama ini saya berpikir mengenai langkah saya selanjutnya, apakah saya melanjutkan untuk menulis blog ini lagi atau tidak. Tapi berhubung ada 1051 e-mail yang memenuhi Inbox saya (e-mail yang saya anggap menarik akan saya pajang di kiriman selanjutnya) yang meminta saya untuk kembali menulis, bahkan sampai ada 100 orang sudah berkelompok memberi ancaman bahwa mereka akan membuat grup "1,000,000 Facebook Users want MARI BERBAGI get Continued!". Gila, udah mau nyaingin Bibit - Chandra aja. Saya merasa tidak enak tentunya bila hal ini terjadi. Saya tidak ingin dicap sebagai korban mode akhir 2009. Akhir tahun gini, selain musim hujan, uang lagi musim itu bikin grup "Sekian Juta Facebookers untuk Mendukung Siapa Saja yang Sedang Punya Urusan dengan Hukum". Saya menjadi prihatin terhadap teman-teman dan saudara-saudara saya yang sedang atau telah bersusah payah mengenyam pendidikan dan menjalankan karir di bidang hukum. Nampaknya mereka bisa menjadi kehilangan lahan pekerjaan yang selama ini mereka idamkan sebab hukum sepertinya tidak punya kekuatan yang berarti lagi di negara ini, jadi tidak perlu kuliah hukum untuk membuat hukum di negara ini tegak. Sepertinya orang seperti saya juga bisa mengatur hukum hanya dengan bermodalkan komputer dan koneksi internet, misalnya saya bisa saja membuat
"1,000,000 Facebookers Dukung Artis yang Berkelahi dengan Wartawan" atau "10,000,000 Facebookers Dukung Konser Elvis di Jakarta (Kami Yakin Dia Masih Hidup)" atau bahkan "200,000,000 Facebookers Meminta Hari Libur Bagi Karyawan Jangan Cuman Hari Minggu dan Hari Besar, Hari Biasa Juga Bisa, Siapa Tahu Ada Urusan Mendadak, Emang Bos Doang yang Pengen Enak".
Dengan Facebook, segala urusan menjadi lancar.

Sabtu, 08 Agustus 2009

Perginya Sang Idola bagian 2

M. Noordin Top dalam versi rude boy, versi anak pesantren, versi hitam-putih, dan versi anak stoner metal (Arah jarum jam)

Artis yang nama depannya pakai huruf 'M' yang telah meninggal setelah M. Jackson dan M. Surip ternyata adalah M. Noordin Top, padahal belum ganti bulan. Dia memang bukan artis sih, tapi kan di Indonesia artis artinya orang terkenal.
Entri ini memang lanjutan dari entri sebelumnya dan kalau bicara tentang judulnya "Perginya Sang Idola bagian 2", harus kita akui bahwa Noordin Top adalah seorang idola bagi beberapa kalangan. Orang-orang yang mengidolakan Noordin Top antara lain berasal dari kalangan pesantren, anak-anak scene rocksteady dan stoner rock (bila mengacu pada gambar diatas).
Sejujurnya saya sedih sewaktu mendengar kabar Noordin yang top dan hits itu mangkat karena saya jadi ingat obsesi saya waktu masih SMA. Waktu itu saya ke toko video game dan di depan pintunya ada poster target operasinya POLRI. Saya baca hadiahnya waktu itu mencapai ratusan juta rupiah kalau saya tidak salah bila bisa memberitahu keberadaannya Noordin Top saja kepada polisi tanpa harus membunuh dia. Tapi sayang seribu kali sayang, harapan tinggal harapan, saya kalah cepat dengan polisi. Saya memang tidak ditakdirkan untuk mendapatkan hadiah ratusan juta rupiah. Padahal lumayan tuh kalau saya bisa memberi tahu polisi tentang keberadaan Noordin Top. Hitung- hitung buat modal usaha sama modal nikah.

Kamis, 06 Agustus 2009

Perginya Sang Idola


"Wer ar yu goeng, okee a'em bokeng. Weer ar yu goeng, okee mae darleng"

Dapat dipastikan kita tidak akan mendengarkan lagu itu lagi secara live di acara Inbox, atau Dahsyat (itu tuh, acara yang agak-agak mirip sama Top of The Pops kalau di Inggris).

Akhir-akhir ini kita dikejutkan dengan kabar kematian artis-artis yang kapasitasnya internasional maupun nasional. Kurang lebih dalam tahun 2009 ini ada 18 artis yang sudah pergi meninggalkan kita. Hey, apa yang sedang terjadi?! Ada apa ini?! Apa kita sedang dihukum Tuhan? Ataukah kita memang sudah tidak boleh menonton TV atau mendengar radio? Ataukah ini adalah sabotase dari infotainmen supaya mereka mendapatkan bahasan dalam tiap episodenya? Sepertinya kita memang tidak akan pernah tahu pasti akan jawabannya.
Namun akhirnya saya menemui titik cerah dari rentetan kematian artis-artis ini, ya setidaknya mengarah kesana lah. Saya menemukannya sewaktu saya sedang (maaf) berak pas lagi break pembuatan makalah saya tentang eksperimen pewarnaan material kulit dengan darah dan air mata. Bulan Juli kemarin Michael Jackson the King of Pop meninggal di usianya yang ke-50. Lalu bulan ini, dalam perjalanan menuju puncak karirnya di bidang musik, miliarder baru Indonesia, Mbah Surip ikut menyusul kepergian Michael Jackson. Kedua artis yang meninggal tadi sama-sama memiliki nama depan dari huruf 'M'. Kenapa M? Kenapa tidak Q atau X? Inilah sepertinya akan menjadi pertanyaan yang akan selalu ada di dalam benak kita.
Jadi siapakah artis yang nama depannya diawali huruf 'M' yang pada bulan september akan meninggalkan kita? Bisa saja orang itu adalah Manohara atau Mayangsari atau Micky AFI atau Mbah Marijan. Mari kita doakan supaya artis-artis yang nama depannya diawali huruf 'M' selalu ada dalam perlindungan-Nya.

Selasa, 04 Agustus 2009

Apa Bedanya Headline dengan Deadline?

Apa perbedaan antara headline dengan deadline? Apakah perbedaannya berada pada huruf depan kedua kata tersebut? Tentu saja jawabannya adalah tidak. Kenapa tidak? Tentu tidak biarpun saya sudah beri kombantrin. Bedanya adalah...
Mari kita definisikan satu per satu menurut penggalan katanya. Headline, head bila dipenggal dari line bisa menyebabkan kematian bagi line karena line tidak memiliki head lagi, bagian tubuh yang merupakan tempat bersarangnya otak, bagian tubuh yang dalam bahasa spanyolnya adalah cabeza. Sedangkan deadline, bila kata dead dipenggal dari line maka line hanya berupa garis, sudah tidak menjadi (maaf) momok bagi para mahasiswa dan karyawan yang biasanya dikejar deadline.
Bila didefinisikan berdasarkan bentuknya yang utuh maka headline berarti garis kepala. Garis-garis di kepala yang muncul ketika Anda menginjak usia yang dikategorikan sebagai usia lanjut. Headline bisa juga muncul pada kepala Anda meskipun Anda tidak menginjak usia lanjut tetapi ketika Anda menginjakkan kaki di kaki Gunung Fujiyama dan Anda menjadi Kikaider.
Lain halnya dengan deadline. Kita semua tentunya sering mendengar kalimat penolakan seorang mahasiswa atau karyawan yang diajak temannya misalnya untuk lari sore-sore keliling Lapangan Saparua, Bandung. Mahasiswa atau karyawan tersebut mengucapkan "Sori brad, gua gak bisa soalnya lagi dikejar deadline nih." Setelah berkata demikian sang mahasiswa atau karyawan tersebut akan merasa temannya dapat menerima alasannya dengan hati yang lapang karena alasannya dianggap logis padahal sebetulnya temannya merasa kesal karena si mahasiswa atau karyawan itu lebih memilih berlari dikejar deadline daripada berlari di sore hari mengelilingi Lapangan Saparua. Namun kadang kita memang harus mengorbankan persahabatan untuk menyelamatkan masa depan. Apabila si mahasiswa atau karyawan tadi orangnya terlalu solider, maka dia akan memilih berlari bersama temannya dan mengabaikan dosen atau bosnya. Deadline bila diartikan secara utuh adalah garis mati. Tentunya pengertian ini bermakna harfiah. Bila Anda melewati garis mati ini maka dapat dipastikan Anda akan berhadapan dengan dosen atau si bos yang sudah menyiapkan sanksi bagi Anda. Dan tentunya sanksi tersebut merupakan (maaf) momok bagi Anda.